TANGIS NENEK DI KOTA NENEK
Begitu kudengar pemberitahuan pesawat bersiap landing aku lega, kami telah sampai di atas kota Jeddah. Aku membenahi selimut yang masih kukenakan, melipat dan memasukannya di laci kursi duduk pesawat. Kuperiksa tas kecil yang berisi paspor haji , masih lengkap. Lalu aku meregangkan diri agar nyaman. Mataku belum begitu sempurna usai tidur semalaman. Aku menatap jendela pesawat . Tampak di luar lampu kerlap kerlip di atas atas bangunan meski sangat samar karena kegelapan menyelimuti. Wajar saja , saat itu baru pukul 03.00 dini hari.
Tubuhku bergucang guncang ringan saat pesawat menyentuhkan rodanya ke tanah Jeddah. Alhamdulilah akhirnya sampai, aku mengangis dalam keharuan. Cita citaku yang kuharapkan bertahun tahun kini kesampaian. Ya Allah, terimakasih Engkau membawaku ke negeri ini, negeri yang di dalamnya ada Kabahmu yang kurindukan selama ini.
Aku menunggunya bertahun tahun. Tak ada kejelasan karena jadwal keberangkatanku selalu tertunda tunda. Entah karena pandemi ataupun karena pembatasan usia. Tahun ini alhamdulilah lansia diutamakan. Aku yang menginjak usia 69 ini sangat bersyukur bisa ikut terbang.
Belakangan ini aku tahu bahwa Jeddah artinya nenek. Kota Jeddah disebut kota nenek karena disanalah nenek moyang manusia turun. Beliau adalah Ibu hawa yang diturunkan dari surga. Sementara Adam diturunkan di India. Keduanya kemudian bertemu di Jabal Rahmah dan mulai membangun keluarga di bumi. Jadi kalau tulisan ini diberi judul nenek menangis haru di kota nenek sangat pantas , ya.
( Diceritakan Oleh Ibu jamaah haji tahun 2023).

Komentar
Posting Komentar