RINDU
Jika rindu pada orang tua itu menerpaku, itu wajar sebab aku pernah berada dalam gendongannya. Pernah berada dalam perut ibu selama sembilan bulan, pernah merasakan kasih sayangnya. Jika rindu itu tertuju pada orang yang kusayangi, seperti pada keluarga maka itu kurasa normal, sebab aku pernah hidup seatap bersama mereka bertahun tahun. Jika rindu itu beralamatkan pada anakku, itu sangat natural sebab ia adalah darah dagingku, ikatan yang paling kuat di muka bumi ini adalah hubungan anak dan orang tua. Bila aku mengagumi seorang artis atau master ketika berjumpa pasti mengharu biru, sebab aku telah mengagumi karyanya sejak lama.
Tapi jika aku datang ke makam ini, tiba tiba timbul rindu yang membucah, aku merasa itu suatu yang luar biasa. Aku tak mengenal sosok ini kecuali dalam sejarah di buku buku yang kubaca, di kajian kajian yang kudengar. Agak lebih dalam lagi, aku kadang melantunkan solawat yang kadang timbul tenggelam kadang ingat maknanya kadang tersamar oleh ingatan lainnya. Beliau yang kusebut namanya setiap kali solat kala tahiyat, Allohumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammad.”
Dan kini, ketika aku berada di dekat makamnya, di seputaran roudhoh, yang meski terhijab dengan pagar lima meter, tak tampak apapun kecuali pagar besi dan tabir plastic, aku merasakan beliau hadir melihatku, melihat kami semua yang sowan di makam ini. Aku terduduk dalam luruh haru dan rindu, solawat mengalir pelan dan lirih . Tak tahu darimana datangnya rindu, sedangkan aku hanyalah seorang perempuan tanpa pengetahuan yang datang dari belahan bumi di seberang sana, yang berjarak 8000 kilo meter.
Aku hanyalah seorang yang mengaku umatnya , yang datang berabad lamanya setelah beliau wafat. Dengan secuil keyakinan bahwa aku diakui umatnya , aku berani datang ke sini. Maafkan jika aku hanya bisa melogika, bahwa dalam pelajaran di sekolah yang kuterima bahwa energi akan selalu mengalir seperti gelombang. Energi kasih beliau telah melewati ribuan abad, jutaan kilometer menembus kami yang ada di sini. Lalu menyinari hatiku, hati jamaah , dan kami pun menangis haru terbawa rindu.
Aku mencoba menganalisa melalui informasi penciptaan alam semesta, bahwa sebelum alam semesta didiciptakan maka ruh Muhammad telah lebih dulu diciptakan. Maka beliau adalah nenek moyang dari seluruh umat manusia. Jika rindu ini hadir, tentulah wajar, ibarat seorang cucu merindukan kakeknya. Ibarat seorang sahaya merindukan sayyidnya. Seperti ranting ranting merindukan pohon yang menyangga ranting ranting itu.
( cerita dari seorang jamaah haji )

Komentar
Posting Komentar