TAK BOLEH TAMAK
Aku merasa senang hari ini, ketika
kakiku melepuh karena dua hari berturut turut menempuh jarak yang cukup jauh ke Jamarod , tiba -tiba aku mendengar kabar baik itu."Ada jalan yang lebih dekat ke Jamarot, " begitu kata seorang teman .
Segera kucari berita menggembirakan itu. Yang pertama kulakukan tentu mengunjungi tenda suamiku yang letaknya bersebelahan dengan tendaku. Kupanggil dia dengan penuh harap agar dia mengikuti saranku untuk menempuh jalan pintas . Karena yang mempunyai informasi ini seorang jamaah pria maka aku menyemangati suamiku untuk mengejar informasi lengkapnya. “ Ayuk, la Pa, tanya sama Mas Rama rutenya,” pintaku.
“Ah, kamu ini, kalau mendengar apa apa suka tergesa gesa, ” katanya.
Aku terus merajuk sambil memperlihatkan kakiku yang melepuh karena kemarin sudah menempuh 8 km. Akhirnya ia mau menuruti keinginanku. Ia pergi ke tenda Mas Rama dan kembali dengan wajah sumringah. Akhirnya harapan itu terbit, aku membayangkan bisa berjalan santai menuju Jamarot dengan rute yang pasti menyenangkan.
Benar, rute itu memang dekat. Kami berjalan dengan santai sambil melihat lihat di sepanjang jalan. Tampak perkampungan yang berisi rumah rumah kubus berjajar di sana . “Jamarot aku datang dengan cepat, bisik hatiku, hihi.” Bahkan aku lebih cepat dari teman -teman jamaah haji yang lain di luar sana. Haji regular yang menemukan jalan seperti haji furoda ! Yes !
Akhirnya lancar sudah proses pelemparan jamarot. Kini kami berdua menempuh jalan kembali. Aku merasa senang karena sbentar lagi , setelah melewati rute pendek itu aku dapat sampai di tenda Mina dengan sangat cepat. Aku bayangkan betapa nyamannya bisa selonjoran di tenda Mina ketika masih sunyi.
Kami susuri rute ketika berangkat. Kupandangi lagi rumah rumah penduduk yang berada di kanan kiri jalan. Kira kira satu kilo aku merasa aneh, kurasa ada yang kurang keliru.
“Pa, coba dech papa lihat di sana, sepertinya kita tadi tidak melewati ini. “
Suamiku tak menjawab. Ia tampak bimbang juga, lalu mengecek peta di gawainya. “ Sudah betul nih mapnya,” jawabnya sambal pandanganya menyusuri pemandangan di sekitar kami.
Kamipun sepakat berjalan lagi sekitar satu kilo. Makin gak enak perasaanku karena rasa tersesat makin menguat. “Hadduh, sampai mana ini?” aku menghentikan Langkah.
Suamiku ikut berhenti, kami saling pandang. “Makanya, tadi kenapa lewat jalan pendek ini, kita jadi tersesat, kan?” suamiku bicara dengan nada tinggi.
“Yach mana mama tahu kalau mau tersesat. Penginnya cepat sampai lalu cepat pulang gak tersesat seperti ini, “ balasku. Kami saling membuang muka.
“Ya dah , kita balik lagi,” ajak suamiku sambil masih manyun. Aku mengikuti langkahnya yang kian cepat. Lama sekali kami diam, bahkan mungkin sepanjang satu kilo meter lebih kami saling diam. Aku sudah capek dengan kaki yang melepuh dan kesal dengan rute yang salah ini. “Ya Allah, Kau tak rela aku mengambil rute ini rupanya.”
Akhirnya sampai di jalan yang kami kenali hatiku bersorak," Alhamdulillah ya pa, akhirnya kita sampai di jalan yang kita lewati saat berangkat tadi. Yuuk, segera pulang, makan dan mandi. ” Aku mempercepat langkahku hingga berada di depan suamiku. Ia hanya diam saja tak menyahut. Sambil kutebak, kira kira jalan yang aku lalui tadi berjarak 8 kilometer. Sama persis dengan jarak yang ditempuh teman -teman di jalur biasa. Astagfirullah, maafkan ketamakanku hari ini.
( Cerita dari seorang jamaah haji Kloter 55 haji tahun 2023)

Komentar
Posting Komentar