UKHTI JAMILAH JIDDAN

 

Shof solat di masjid Nabawi sore itu telah tertata rapi meski adzan masih setengah jam lagi. Aku menemukan satu tempat lalu kugelar sajadah di sana. Tak lama kemudian di depan kami  digelar plastik panjang dari  dari ujung ke ujung shof.  Aku menanyakan untuk apa plastik ini ke  seroang wanita muda memakai burdah di sebelahku.  Katanya untuk berbuka puasa karena hari ini adalah hari Kamis.Jadi plastik itu laksana meja panjang yang akan diisi dengan hidangan berupa makanan kecil cuma cuma bagi jamaah solat magrib.

 Aku yakin yang kutanya adalah  orang Saudi asli. Benar, ia orang Madinah kala kutanya.  Aku menyapa dengan malu malu karena keterbatasan bahasa Arabku. Wajahnya cantik dengan kulit muka yang bersih,  ” Ukhti .. jamilah jiddan,” candaku. 

Senyumnya mengembang kala ia kupuji.   Ternyata ia adalah hafihdoh di masjid Nabawi ini. Semacam ustadzah   yang bertugas membimbing tadarus kalau di masjid masjid di tanah air.

Aku minta diajari membaca surat surat pendek di juz 30. Yang membuat aku menyesal di akhirnya adalah, aku tidak merekam indah suaranya dan fasih pelafalannya. Benar benar aku menyesal karena setelah itu aku tak bertemu lagi denganya meski aku mencarinnya di esok harinya ke seantero masjid.

O, ya kembali ke cerita tadi. Dalam bayanganku saat ini masih aku ingat suaranya merdu melafalkan  ayat demi ayat, surat demi surat. Beberapa surat  kami lafalkan bergantian . Jika ada kesalahan aku minta untuk dibetulkan. Aku membaca dengan bacaan yang terbaik menurutku agar bisa dibetulkan mana yang kurang. “ Masya Allah, tabarokalloh, tammam” komentarnya. Jelas aku tersipu oleh pujian itu.

“Astagfirullah…” jawabku. Menirukan sopan santun orang Arab kalau dipuji.

Dia bilang sangat special bagi orang di luar Arab yang bisa melafalkan bacaan dengan cukup fasih. "Sedangkan kami saja yang orang Arab masih terus belajar terus menerus agar bagus bacaannya," katanya.

Dan itu benar, di lain waktu aku bertemu dengan dua remaja usia belasan tahun di masjid yang sama. Ketika kami saling bertukar bacaan aku cukup terkejut mendengar mereka membaca Al Quran ala kadarnya. Banyak tajwid yang terlupakan dan bacaan yang tergesa gesa dilafalkan. Kini aku paham, setiap bangsa punya kesempatan yang sama untuk belajar membaca Al Quran dan mencapai  pelafalan yang sesuai bacaan yang tartil . Tak mengistemawakan orang Arab dari orang luar Arab.

 

 

Komentar

Populer

FRESHCARE

ANTUSIASME ANAK MUDA ARAB

KISAH PEMUDA KAHFI