SEMBRONO
Aku hanya duduk termenung di loby dengan pakaian towaf lengkap . Baju panjang warna putih, lengan tangan berbalut sarung tangan dan selempang tas berisi air minum dan plastik tempat sandal saat berada di dalam masjidil haram nanti. Aku menyesal tadi terlalu lama di musola bawah sehingga tak mendengar ada pengajuan jadwal ke Masjidil haram sehingga semua teman teman sudah berangkat semua.
Aku Kembali terdiam. Kupandangi pintu hotel tertutup rapat. Dari dalam aku bisa melihat halaman begitu lengang, tak ada jamaah yang bersiap siap mencegat bus solawat di depan maktab. Terlintas di pikiranku tentang aturan umrah. Bahwa ibadah umrah adalah ibadah yang istimewa, pasalnya seorang yang berniat tak boleh berhenti di tengah jalan dengan alasan yang sepele. Masa aku akan berhenti umrah sunnah hanya karena tidak ada teman? Tidak lucu, lah, tapi nyatakanya itu yang sedang aku pikirkan saat ini. Aku merasa ada malaikat yang diam diam menertawaiku. Sudah ambil miqot tadi siang , ini tinggal towaf saja masa menyerah.
Kuputuskan untuk menuju halaman, mencegat bus solawat. Di sana aku bertemu dengan Pak Agus dan kelompoknya. Mereka mau melakukan tawaf juga . Sekitar tujuh orang berada di sekeliling Pak Agus, kebanyakan lansia. Aku pun minta agar aku bisa bersama mereka. Kini aku Bersama rombongan Pak Agus. Sampai terminal kami turun. Seorang ibu yang paling muda dari mereka kuikuti lalu kutegaskan keinginanku untuk towaf bareng karena aku sedikit curiga, masa malam malam begini para lansia mau towaf. Benar kecurigaanku, ibu itu menjawab , “ kami ini mau towaf naik sekuter, sebab kami kebanyakan lansia.
Oh, masya Allah, aku sendiri lagi.
Tak mungkin aku naik sekuter bersama mereka. Rupanya Allah sudah membaca niatku
dari tadi siang . Niat yang seperti layangan putus, tak tentu arah, mau umrah
sunah atau tidak tak begitu mantap karena badan sedikit capek. Tapi fasilitas KBIH yang menyediakan
trasportasi untuk mengambil miqot makani membuatku tergoda untuk ikut. Sayang
jika dilewatkan, apalagi ada kalimat city tour di dalamnya. Sebenarnya kalimat
itulah yang lebih menggodaku , kalau aku mau jujur. Tak jujurpun Allah telah membaca hatiku .
Di terminal itulah aku memulai langkah seorang diri, menuju masjidil haram berdesak desakan dengan ratusan orang yang tak kukenal .Aku berjalan menyusuri luar terminal menuju masjid. Di tengah jalan aku menemukan seragam orang Indonesia, suami istri pula. Lalu aku meminta ikut bersama mereka. Ternyata mereka bertiga, di samping mereka ada seorang bapak yang tinggi besar tampak mengawal.
Setelah beberapa langkah kami berjalan sambil mengobrol aku tahu bapak pengawal itu ternyata ketua rombongan ( karom). Ceritanya pasutri itu sakit saat teman teman lain towaf , jadi mereka ketinggalan dan baru sekarang berkesempatan towaf. Dikawal oleh Bapak ketua rombongan untuk menjaga mereka.
Towafpun kami mulai, satu putaran, dua putaran kami masih berempat. Namun di putaran ketiga pasangan suami istri itu lenyap ditelan arus para jamaah . Mulanya si suami berjalan cepat sambil mendekat ke dinding Kabah, menyeret istrinya yang tampak kurang bisa mengikuti. Bapak itu menerjang barisan di lapisan dalam, menelusup dan mendekat ke Kabah. Aku sempat mengikuti kira kira setengah putaran , tapi setelah itu aku menyerah. Aku akan berjalan susuai dengan kemampuan saja sebab prinsipku dari awal aku ingin towaf dengan khusyu dan tidak terlalu dekat dengan kepadatan jamaah di dekat Ka’bah. Aku lebih suka berada di lapisan tengah atau agak luar.
Merasa kehilangan jejak orang yang dikawal bapak Karom itu malah mengawalku. Ia menjagaku diantara para jamaah towaf yang padat kala aku terjebak di lapisan dalam yang padat karena mengejar pasutri tersebut. Lantas Pak Karom itu mengajakku untuk minggir, menikmati towaf dengan berjalan lebih pelan. Aku mengikuti saja sambil terus memanjatkan doa doa pada setiap putaran. Syukurlah towaf selesai dengan damai, aku solat di belakang hijir Ismail dan Pak Karom itu menjagaku dari desakan jamaah towaf.
Kuucapkan terimakasih lalu kupersilakan untuk menunggu pasutri yang dikawalnya. Beberapa saat belum juga muncul kami menuju tempat sai, mungkin mereka ia akan muncul di sana . Sebab dari telepon mereka bilang sedang menunggu di dekat tempat sai. Kamipun menuju ke sana , tapi tak menemukan mereka.
Aku mempersilakan Pak Karom itu untuk menunggu atau mencari
mereka lagi tetapi telponnya tidak bisa dihubungi. Kami berjalan keluar dari
masjid dan bertemu dengan teman teman
semaktab. Akupun mengucapkan terimakasih pada Bapak Karom itu dan bergabung
dengan teman semaktab yang sebentar lagi akan menuju terminal dan pulang .Sampai kami berpisah aku tak tahu siapa namanya bapak yang mengawalku tadi. Dan juga lupa menanyakan namanya.
Ya Allah, terimakasih Engkau telah mengirimkan malaikat penjaga dalam bentuk manusia padaku. Mohon ampun atas kesembronoan niatku.
( Seperti diceritakan dari seorang jamaah haji tahun 2023)


Komentar
Posting Komentar