JALAN HIJRAH
Bus sudah beberapa saat menanti kami untuk diantar ke Madinah. Bus warna merah dengan logo berbentuk kepada onta itu berdiri kokoh di jalanan depan hotel yang mulai memanas. Jam 8 pagi di Mekah rasanya seperti jam 12 siang di Indonesia .
Kami berurutan memasuki bus dan mengambil tempat duduk mana saja yang kosong lalu meletakkan barang bawaan di bagasi atas. Ada tas , topi dan tentu saja sebotol air mineral untuk menjaga agar tak dehidrasi selama perjalanan.
Bus belum berangkat padahal sudah berkali kali awak bus naik turun untuk mengecek kelengkapan dan jumlah penumpang, memastikan semua sudah terangkut. Mulanya kami cukup tenang , tetapi beberapa jamaah mulai merasa gerah karena keterlambatan ini. Memang terlambat hampir satu jam dari perjalanan yang direncanakan. Padahal di Madinah kami sudah menunggu solat arbain , empat puluh kali berjamaah yang kami dambakan bisa terlaksana. Bila telat satu jam saja maka kami tak mendapatkan jamaah solat dhuhur di masjid Nabawi. Yang berarti tidak mendapatkan arbain( 40) hari terus menerus berjamaah.
Dari jendela bus aku melihat
hanya hamparan batu dan guru pasir berwarna coklat muda yang terus menerus kami
lalui. Sangat jarang bangunan di sana. Betapa keras alam di Saudi ini, masya Allah.
Aku yang terbiasa memandang pohon menghijau ,sawah menguning dan merekahnya
bunga bunga di Indonesia tiba tiba tercekat menyaksikan betapa tandus negeri
ini dan betapa bersyukurnya aku yang punya tanah air subur makmur. Aku malu, perjalanan kami ini tak ada apa apanya dibandingkan dengan perjalanan hijrah umat Nabi di masa lalu.
Terbayang dalam benakku pada peristiwa berabad abad yang lalu, dimana dua anak manusia berjalan siang malam di gurun ini, menuju Madinah. Yang seorang adalah laki laki pilihan yang penuh ketenangan, satunya lagi seorang laki laki yang siap mengorbankan dirinya untuk membentengi sahabat seperjalannya. Jarak dari Mekah ke Madinah sekitar 380 km, yang ditempuh dengan bus selama 4-5 jam . Sedangkan menurut sejarah ketika ditempuh dengan jalan kaki bisa selama 8 – 9 hari. Pastinya dua sahabat itu kalau siang terpanggang matahari, malam terpapar dingin menusuk tulang. Begitulah keduanya terus berjalan demi sebuah misi dakwah ke Yatrib, nama lama kota Madinah.
Sampai di (semacam) terminal kecil aku turun. Menantang panas yang menyengat tanpa masker ataupun penutup wajah. Beberapa menit seperti terbakar rasanya. Seperti ikan yang baru saja terlempar ke daratan. Dari kolam AC bus ke daratan padang pasir yang terik. Beberapa saat aku bertahan lalu melompat lagi ke dalam bus. Dalam bus, salam dan solawat aku kumandangkan dalam hati , semoga Rasululooh menerima salamku.



Komentar
Posting Komentar