Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2021

AWAN AWAN HARAPAN

  Setiap saat   pikiran ini membentuk awan – awan keinginan. Dari kepala yang penuh sesak dengan hasrat terhadap apa – apa yang ada di depan mata dan yang belum nyata, terbentuk awan - awan itu . Mereka lantas meninggi ke udara dan makin tinggi tertiup angin . Hanya pandangan mata kuyuku yang sanggup mengikutinya.        Selintas aku ingat   kisah cloud bread, roti awan yang dimilki anak – anak di dunia dongeng. Mereka mempunyaI roti awan yang mengantar kemana   mereka ingin pergi . Roti awan yang membebaskan.   Alangkah menyenangkannya menjadi anak – anak . Sebaliknya , awan – awan orang dewasa seperti menjadi     beban. Yang menggantung tak jelas kapan menjadi hujan. Yang   membuat   dada terasa sempit, seperti nafasnya orang yang sedang mendaki bukit tinggi.   Sudah tahu hidup tak pernah bertekuk lutut pada keinginan   , mengapa aku masih saja   membuat awan . Hidup hanya akan   berlutut   p...

HARI RAYA DAN PUASA

       Hari ini tahun  baru Islam, 1 Muharram 1443 H tiba. Setiap kita pasti sudah mengetahui amalan  apa saja yang sebaiknya kita laksanakan di bulan suci ini. Tiga amalan yang sangat dianjurkan , puasa sunnah,  sedekah dan muhasabah. Saya jadi  ingat dengan  peringatan peringatan  yang bersejarah dalam Islam lainnya,  terutama hari raya.        Yang menarik bagi saya, adalah amalan puasa yang mengiringinya .   Mengapa hampir setiap perayaan atau hari raya selalu diiringi dengan puasa? Idul Fitri , hadir setelah sebulan penuh  puasa Ramdhan.  Idul Adha, pada pagi harinya kita disunahkan berpuasa. Bahkan hari kelahiran Nabi,  hari  Senin juga disunnahkan puasa.        Bukankah hari raya sama dengan  kemeriahan? Hari penuh dengan warna, tawa dan menikmati hidangan . Tetapi mengapa justeru puasa yang dianjurkan ? Bukankah puasa tak sesuai dengan warna hari raya...

SIAP MATI SETIAP SAAT

  Setiap beberapa jam pasti kudengar suara     sirine ambulan pembawa jenazah atau pasien.   Di bulan bulan ini suaranya  agak   berbeda dengan suara yang kami dengar sebelumnya.  Lebih melengking   dan rasanya seperti jeritan panjang pasien yang sedang terpapar covid -19.  Sudah setahun lebih covid- 19  mengerubung penduduk bumi. Dan  tahun ini covid-19 tampak begitu nyata. Daerah kami yang selalu dilaporkan “hijau” kini “merah” membara.         “ Aku tak bisa tidur nyenyak tadi malam   usai mendengar suara  ambulan. Panjang dan menyayat, “ keluh seorang teman .   Memang di masa pandemic yang cukup panjang dan melelahkan ini semua hal bisa saja beraura kesedihan. Aku pun terpengaruh, gampang sedih kala suara itu datang lagi. Lalu buru- buru istigfar sambil dalam hati menghitung   usia yang kira – kira tersisa. Sambil menelisik apakah ada komorbit yang diam diam mengintai di tubu...

BERISIK

  Telah kujejalkan morat marit gagasan di kepalaku Telah kusertakan ketergesaan   di perjalananku Telah kulontarkan keriuhan omelan melalui bibirku Ohh….begitu berisiknya diriku Begitu rapat tertutup telinga batinku Ohh…adakah Engkau berkenan melenyapkan semua berisik ini ? Membawaku pada hening dzikirku?   (Meski mungkin itu barulah dzikir dzikiran saja) Tuhan….kurindu ruang kosongMu Tanpa rupa.. tanpa suara…tanpa siapa siapa