HARI RAYA DAN PUASA

 

    Hari ini tahun  baru Islam, 1 Muharram 1443 H tiba. Setiap kita pasti sudah mengetahui amalan  apa saja yang sebaiknya kita laksanakan di bulan suci ini. Tiga amalan yang sangat dianjurkan , puasa sunnah,  sedekah dan muhasabah. Saya jadi  ingat dengan  peringatan peringatan  yang bersejarah dalam Islam lainnya,  terutama hari raya.

 

    Yang menarik bagi saya, adalah amalan puasa yang mengiringinya .   Mengapa hampir setiap perayaan atau hari raya selalu diiringi dengan puasa? Idul Fitri , hadir setelah sebulan penuh  puasa Ramdhan.  Idul Adha, pada pagi harinya kita disunahkan berpuasa. Bahkan hari kelahiran Nabi,  hari  Senin juga disunnahkan puasa.

 

    Bukankah hari raya sama dengan  kemeriahan? Hari penuh dengan warna, tawa dan menikmati hidangan . Tetapi mengapa justeru puasa yang dianjurkan ? Bukankah puasa tak sesuai dengan warna hari raya ? Puasa itu diam, tenang, sederhana dan penuh  keseriusan berjibaku menahan hawa nafsu.

 

    Jujur, puasa itu memang berat . Ketika saya usia Sekolah Dasar , hari – hari puasa Ramadhan  dalam hati sering mengeluh , mengapa harus puasa dulu untuk bisa memakai  baju baru dan makan enak? Kini setelah sekian puluh tahun juga masih terasa  berat . Hanya persolannya beda, kalau dulu karena tak bebas makan di siang hari , kini terganggu oleh  naiknya asam lambung  atau rasa  lemas di siang hari . Sama saja , ya akhirnya.

 

 Kini , saya harus belajar memahami , hari raya hadir bukan hanya untuk menyenangkan raga tetapi juga jiwa. Bahkan sejatinya jiwalah yang perlu diharirayakan. Karena makanan jiwa adalah puasa maka wajar ketika hari raya selalu ada menu wajib nya. Hidangan lezat , baju baru  dan kegembiraan lain hanyalah menu pelengkap.

 

     Kita tahu , puasa bermanfaat untuk  mengangkat manusia ke wilayah suci , dekat dengan Allah. Alangkah indahnya hari raya itu bila kita bayangkan serangakian jiwa – jiwa suci  yang rapi  berbaris , berputar seperti  ketika tawaf, seraya  mendekat kepada yang Maha Besar dengan lantunan tahmid, tahlih dan takbir.

     Puasa, mengerutkan ego manusia untuk lebur pada kekuasaan Allah. Di sana manusia menjadi bagian sekecil debu dari lautan padang pasir kekuasaanNya. Makin kita bergantung makin terasa tenanglah  jiwa ini . Makin tenggelam dalam celupan kasihNya makin terasa bermaknalah  hidup ini  . Yuk, tetap tabah menjalani  puasa.

 

Komentar

Populer

FRESHCARE

ANTUSIASME ANAK MUDA ARAB

KISAH PEMUDA KAHFI